– Catatan Tentang Waktu, Perjalanan, dan Berbagai Hal yang Tidak Ingin Saya Lupakan -
Showing posts with label Cerita Pendakian. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendakian. Show all posts
Pendakian ke Gunung Luhur ini sebenarnya bukan rencana yang dibuat secara mendadak. Sekitar satu bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman kantor sudah beberapa kali membahasnya. Mulai dari menentukan tanggal, mengatur kendaraan, hingga memastikan siapa saja yang benar-benar bisa ikut. Semuanya berjalan seperti rencana pendakian pada umumnya, sampai sekitar satu minggu sebelum keberangkatan, istri saya tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin ikut.
Saya cukup terkejut. Selama ini ia belum pernah mendaki gunung. Reaksi pertama saya pun bukan langsung mengiyakan. Yang ada di kepala justru berbagai pertanyaan. Apakah ia akan kuat berjalan? Bagaimana jika cuaca tidak bersahabat? Apakah pendakian pertamanya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau justru membuatnya enggan mengulanginya lagi?
Mungkin keraguan itu muncul karena selama bertahun-tahun, gunung selalu menjadi cerita yang saya bawa pulang. Tentang jalur yang panjang, dinginnya dini hari, dan matahari yang perlahan muncul dari balik pegunungan. Ia selalu mendengarkan cerita-cerita itu, tetapi tidak pernah benar-benar berada di dalamnya. Kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, kami akan berjalan di jalur yang sama.
Gunung Luhur bukanlah gunung tertinggi yang pernah saya datangi. Justru sebaliknya, inilah gunung dengan ketinggian paling rendah yang pernah saya daki sejauh ini. Jalurnya pun tidak sepanjang pendakian-pendakian sebelumnya. Karena itulah saya merasa tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk pendakian pertamanya. Rasanya, pendakian pertama tidak perlu tentang seberapa tinggi sebuah gunung, melainkan tentang meninggalkan pengalaman yang cukup baik hingga membuat seseorang ingin kembali.
Perjalanan dimulai sekitar pukul sebelas malam dari Jakarta. Kami memilih menggunakan sepeda motor, membelah jalanan yang perlahan berubah wajah. Lampu-lampu kota yang masih ramai berganti dengan jalan kampung yang semakin sempit, berlubang, dan sesekali terasa begitu sepi. Sekitar tiga setengah jam kemudian, kami akhirnya tiba di area basecamp Gunung Luhur.
Karena memilih melakukan pendakian tektok, kami memutuskan menyewa satu kamar vila untuk beristirahat. Tas dibongkar untuk memastikan kembali barang bawaan, registrasi pendakian diselesaikan, lalu kami memanfaatkan sisa waktu untuk tidur beberapa saat sebelum perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
Gerbang pendakian dibuka tepat pukul empat pagi. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami mulai melangkah meninggalkan basecamp, ditemani udara yang masih dingin dan langit yang belum sepenuhnya terang.
Saya tidak akan banyak bercerita tentang jalur pendakian Gunung Luhur. Bagi saya, karakternya cukup standar, khas pegunungan dengan ketinggian di bawah 2.000 mdpl. Bahkan, jika harus membandingkan, jalurnya mengingatkan saya pada jalur Gunung Prau via Patak Banteng di kawasan Dieng. Anak tangga yang mendominasi awal pendakian menjadi tantangan utama, sementara sisanya terasa cukup familiar bagi saya.
Yang justru menarik untuk diceritakan adalah pengalaman istri saya. Belum sampai satu kilometer berjalan, napasnya sudah mulai terengah-engah. Anak tangga yang terus muncul seolah tidak ada habisnya membuat kami beberapa kali berhenti untuk mengambil jeda.
Di sela-sela beberapa kali berhenti, kami lebih banyak mengobrol daripada diam. Saya bercerita tentang pendakian-pendakian pertama yang pernah saya lalui. Tentang bagaimana dulu saya juga sering kehabisan napas, bertanya-tanya kapan tanjakan akan berakhir, dan merasa ingin segera sampai tanpa benar-benar menikmati perjalanan.
Saya mengatakan kepadanya bahwa hampir semua orang yang baru pertama kali mendaki akan merasakan hal yang sama. Kelelahan adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting bukan berjalan cepat, melainkan tetap melangkah. Tidak perlu memikirkan seberapa jauh puncak masih menunggu, cukup fokus pada satu langkah berikutnya. Lama-kelamaan, tanpa terasa, tujuan itu akan semakin dekat.
Sejak awal pendakian, saya mengaktifkan fitur pelacak aktivitas di jam tangan dan merekam perjalanan melalui Strava. Setiap kali kami berhenti untuk mengambil napas, saya sesekali melirik data yang terekam. Elevasi yang berhasil kami capai ternyata baru bertambah beberapa puluh meter. Rasanya seperti sudah berjalan sangat jauh, padahal gunung baru saja dimulai.
Saya hanya tersenyum melihatnya. Barangkali memang seperti itulah pengalaman mendaki untuk pertama kalinya. Setiap tanjakan terasa lebih panjang, setiap anak tangga terasa lebih tinggi, dan setiap jeda seolah menjadi kebutuhan. Saya pernah berada di posisi itu, sehingga saya paham bahwa tubuh hanya sedang berusaha beradaptasi dengan sesuatu yang benar-benar baru.
Sekitar empat jam kemudian, tepatnya sekitar pukul delapan lewat tiga puluh pagi, kami akhirnya tiba di titik tertinggi Gunung Luhur, di ketinggian 1.750 mdpl. Angka yang mungkin tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain yang pernah saya datangi. Bahkan, jika dibandingkan dengan area camp terakhir di Gunung Kerinci, ketinggian ini masih berada di bawahnya. Titik awal pendakian di Dieng pun sudah lebih tinggi dari sini.
Namun, berdiri di sana membuat saya kembali mengingat bahwa gunung memang tidak pernah benar-benar bisa diukur dari angka yang tertera di papan ketinggian. Bukan soal seberapa tinggi puncaknya, melainkan seberapa besar usaha yang harus dikeluarkan untuk mencapainya. Bagi seseorang yang baru pertama kali mendaki, 1.750 mdpl bisa terasa sama berharganya dengan ribuan meter lainnya.
Hari itu, saya tidak sedang mengejar angka ketinggian. Saya hanya senang melihat istri saya berhasil menyelesaikan pendakian pertamanya.
Kami tidak berlama-lama di puncak. Tidak ada selebrasi yang berlebihan. Kami hanya saling mengucapkan selamat, mengambil beberapa foto sebagai penanda, lalu duduk sejenak menikmati bekal sambil bercerita tentang perjalanan yang baru saja kami lalui. Anak tangga yang terasa tidak ada habisnya, rasa lelah yang berkali-kali memaksa berhenti, hingga perjalanan yang pada akhirnya berhasil kami selesaikan bersama.
Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk turun. Jalur yang beberapa jam sebelumnya terasa berat kini justru terasa jauh lebih bersahabat. Menjelang pukul dua belas siang, kami sudah kembali tiba di vila. Pendakian itu selesai, tetapi rasanya cerita yang kami bawa pulang baru saja dimulai.
Jika melihat catatan di Strava, kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam 15 menit untuk mencapai puncak, dan sekitar 1 jam 50 menit untuk kembali turun ke basecamp. Angka-angka itu mungkin hanya menjadi data bagi sebagian orang. Namun bagi saya, ada satu hal yang tidak pernah tercatat oleh perangkat apa pun: kesabaran.
Di setiap pendakian, saya selalu memegang satu prinsip yang sama: kuat sampai puncak, pulang dengan selamat. Kalimat itu selalu saya pegang, karena mencapai puncak bukanlah akhir dari perjalanan. Masih ada perjalanan turun yang sama pentingnya untuk diselesaikan.
Pendakian kali ini menambah satu pelajaran baru. Ketika orang yang berjalan bersama adalah istri sendiri, saya belajar bahwa mendaki bukan hanya soal tenaga, tetapi juga tentang menemani. Menyesuaikan langkah, berhenti ketika diperlukan, memberikan semangat di saat napas mulai terengah, dan memastikan perjalanan itu tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Kalau boleh dihitung-hitung, mungkin sekitar 99% tenaga yang saya keluarkan hari itu adalah... kesabaran. Untungnya, kesabaran memang tidak pernah membuat ransel terasa lebih berat.
Recharge Kuota Sabar🤣
Beberapa jam setelah tiba di rumah, kami kembali membicarakan hal-hal kecil yang terjadi selama pendakian hari itu. Tentang anak tangga yang seolah tidak ada habisnya, beberapa kali berhenti untuk mengatur napas, hingga rasa lelah yang perlahan berubah menjadi cerita. Lalu saya bertanya kepadanya, "Kapok atau mau lagi?"
Jawabannya ternyata tidak jauh dari yang sudah saya duga. Sambil tertawa, ia menjawab, "Kalau treknya landai, mau lagi." Saya ikut tertawa mendengarnya. Dalam hati saya berpikir, memangnya ada gunung yang jalurnya benar-benar landai dari awal sampai akhir?
Meski begitu, jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Artinya, pendakian pertamanya tidak meninggalkan kesan yang buruk. Saya pun langsung memberikan usul, kalau memang masih ingin mencoba lagi, mungkin lain waktu kami bisa mendaki Gunung Prau melalui jalur Patak Banteng. Karakter jalurnya kurang lebih mirip dengan Gunung Luhur, tetapi pemandangan yang ditawarkan jauh berbeda. Terlebih lagi, saya sendiri masih ingin kembali ke sana. Pendakian terakhir saya ke Prau pada Desember tahun lalu tidak begitu beruntung karena sepanjang perjalanan hanya ditemani kabut tebal.
Siapa tahu, pendakian ke Gunung Luhur ini bukan menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Mungkin, ini hanya langkah pertama dari perjalanan-perjalanan lain yang akan kami ceritakan di kemudian hari.
Baca juga cerita pendakian saya lainnya disini 👉Trekking Journals
Terimakasih
Puncak Prau - 2.590 MDPL.
Banyak orang memulai pengalaman mendaki gunung dengan Gunung Prau. Jalurnya pendek, treknya jelas, dan ketinggiannya tidak terlalu menuntut. Gunung yang sering disebut ramah untuk pemula. Memulai pendakian di 2.100an mdpl dan puncaknya dengan ketinggian sekitar 2.590 mdpl, secara teknis bahkan setara dengan beberapa campsite di gunung-gunung 3 ribuan mdpl. Bulan Desember ini, saya mencobanya.
Pendakian berlangsung tanggal 25 sampai 26 Desember lalu.Saya bersama seorang teman, ikut open trip. Tidak ada alasan yang rumit. Saya hanya ingin menutup tahun ini dengan mendaki.
Kami naik via Patak Banteng. Dari basecamp, kami diantar ojek sampai pos 1. Setelah itu mulai trekking menuju area Sunrise Camp, tempat kami akan bermalam.
Dari pos 1 ke campsite jaraknya kurang lebih empat kilometer. Kami menghabiskan waktu sekitar tiga jam empat puluh lima menit, dengan ritme pelan, seperti biasanya. Jalur yang kami lewati adalah jalur baru dari pos 2 ke pos 3. Banyak anak tangga buatan. Terasa menanjak, tapi diselingi cukup banyak bagian landai. Di kepala saya, jalur ini mengingatkan pada Sindoro via Kledung dari pos 2 ke pos 3, hanya saja dengan versi yang lebih landai.
Berfoto di depan Landmark Ikonik Gunung Prau via Patak Banteng
Cuaca sejak awal tidak terlalu bersahabat. Hujan dan kabut tebal datang bersamaan. Di satu titik hujan turun cukup deras, membuat saya berhenti sebentar untuk mengambil rain coat dari carrier. Setelah itu berjalan lagi, dengan langkah yang lebih pelan. Tidak ada yang perlu dipercepat.
Saya tiba di campsite dengan kabut yang semakin rapat. Gerimis seperti tidak berniat berhenti. Sekitar pukul delapan, hujan turun lebih deras. Setelah makan malam. saya langsung tidur, karena tidak ada hal yang bisa dilakukan selain tidur dimalam itu.
Pukul empat pagi saya bangun dengan niat ingin melihat matahari terbit. Namun, kabut masih tebal meski hujan sudah berhenti. Udara dingin sekali. Dingin yang membuat badan enggan bergerak terlalu cepat. Tapi pagi sudah datang, dan saya tetap bersiap.
Sekitar setengah enam saya mulai berjalan ke puncak. Perjalanannya sekitar empat puluh menit. Kabut masih menggantung. Tebal. Matahari belum benar-benar terlihat, hanya terasa dari cahaya yang pelan-pelan berubah. Beberapa menit setelah saya tiba, alam seperti memberi jeda singkat. Kabut berpindah. Pandangan terbuka sebentar. Samudera awan muncul, lalu perlahan ditutup kembali. Tidak lama. Cukup untuk diingat.
Saya turun kembali ke campsite dengan waktu yang hampir sama. Sekitar pukul tujuh pagi saya sudah sampai. Makan, packing barang, bersiap turun. Tidak terburu-buru. Sekitar pukul delapan lewat tiga puluh saya mulai berjalan.
Jalur turun saya lewatkan lewat jalur lama dari pos 3 ke pos 2. Lebih curam. Tangga bebatuan terasa licin karena hujan semalaman. Langkah harus lebih hati-hati. Sekitar satu jam kemudian saya sampai di warung di antara pos 1 dan pos 2. Istirahat sejenak. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke pos 1, naik ojek kembali ke basecamp. Sekitar pukul sepuluh pagi saya sudah sampai.
Gunung Prau memang bukan gunung yang sulit. Tapi perjalanan ini mengingatkan saya bahwa tidak semua pendakian harus memberi pemandangan sempurna. Cukup berjalan di tengah kabut, basah, dingin dan pelan-pelan saja. Menerima apa yang sempat diperlihatkan, meski hanya sebentar. Yang terpenting, kembali pulang dengan selamat.
Suatu hari nanti, saya akan kembali ke sini. Bukan untuk menuntut apa pun. Hanya untuk melihat pagi dengan cara yang lain.
Where to go, next ?
Untuk sekarang, rencana itu masih kosong. Saya belum tahu akan ke mana melangkah setelah ini. Dan rasanya tidak perlu buru-buru mencari jawabannya. Pendakian ke Prau datang dengan cara yang kurang lebih sama. Tiba-tiba saja terpikir, padahal sebelumnya saya merasa tiga pendakian di tahun ini sudah cukup. Tidak ada daftar tujuan. Tidak ada hitungan gunung berikutnya. Saya hanya mengikuti rasa yang muncul. Kalau nanti ada gunung lain yang ingin didatangi, biarlah itu datang dengan sendirinya. Kalau belum, saya tidak sedang merasa tertinggal apa-apa.
Tulisan pendakian kali ini terasa berbeda dari tulisan-tulisan pendakian saya sebelumnya. Bukan karena perjalanannya kurang berarti, tapi karena memang tidak banyak hal yang saya ceritakan. Secara teknis, pendakian Gunung Prau sudah sangat sering dibahas di banyak tempat. Saya hanya ingin lebih menceritakan pengalamannya saja, tanpa perlu menambahkan terlalu banyak detail yang sebenarnya sudah tersedia di mana-mana.
“Tidak semua pendakian harus memberi pemandangan, beberapa cukup memberi pengalaman.”
Area Puncak
Terimakasih Sudah Membaca Salam
Aspi Yuwanda Jakarta, 27 Desember 2025
Baca juga cerita pendakian saya lainnya disini 👉Trekking Journals
Gunung Kerinci - Pos 1 (Bangku Panjang)
Bulan depan, genap sepuluh tahun sejak pertama kali saya mendaki gunung. Kerinci menjadi langkah awal yang tidak direncanakan secara matang, tapi justru meninggalkan kesan yang sulit dihapus.
Perjalanan dimulai dari Pekanbaru menuju Kersik Tuo, dengan waktu tempuh sekitar empat belas jam. Jalanan panjang, sebagian terang, sebagian gelap. Suasananya sunyi, tapi cukup memberi waktu untuk menenangkan pikiran sebelum pendakian.
Saya masih ingat suasana saat itu. Udara sejuk di sekitar basecamp, suara kantong plastik dari dalam tas, dan langkah kaki yang menyentuh jalur tanah yang belum familiar. Pendakian berjalan perlahan, tidak ada target muluk. Kami hanya berusaha naik dengan ritme masing-masing, berhenti saat perlu, dan terus melanjutkan ketika tenaga cukup.
Kabut tebal menyambut kami di puncak. Sehingga tidak banyak yang bisa dilihat. Tapi saya tidak merasa rugi. Gunung tidak pernah menjanjikan cuaca baik atau pemandangan indah. Ia hanya membuka ruang, dan sisanya kembali ke kita; apa yang kita cari dan apa yang ingin kita bawa pulang.
Tidak banyak dokumentasi dari pendakian itu. Beberapa foto ada, tapi tidak mewakili keseluruhan perjalanan. Waktu itu tidak ada keinginan besar untuk merekam segala hal. Rasanya cukup berjalan, melihat, dan menyimpan apa yang bisa diingat. Sekarang saya mengerti, tidak semua hal perlu disimpan dalam bentuk gambar. Beberapa cukup disimpan sebagai pengalaman.
Sekarang, naik gunung sering dibarengi dengan urusan konten. Foto estetik jadi bagian yang tak terpisahkan. Saya paham itu bagian dari zaman, tapi waktu itu saya nggak terlalu memikrikan soal itu. Dan ternyata, justru yang tidak difoto itu yang lebih lama tinggal.
Sepuluh tahun berlalu sejak perjalanan itu. Banyak hal berubah. Diri pun tidak sepenuhnya sama. Tapi Kerinci tetap punya tempat tersendiri dalam ingatan. Bukan karena pencapaian, tapi karena ia jadi titik awal dari banyak hal yang datang setelahnya.
Dari pendakian itu, saya belajar untuk bersabar, untuk memperhatikan sekitar, dan untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.
Sejak pendakian pertama saat itu, saya tidak pernah lagi naik gunung. Bukan karena kehilangan minat, tapi karena alasan-alasan yang memang tidak terselesaikan. Ada hal-hal dalam hidup yang membuat ruang untuk hal lain menjadi sangat terbatas. Waktu berjalan, dan tanpa terasa delapan tahun berlalu begitu saja. Hingga akhirnya, pada 2023, saya kembali menginjakkan kaki di gunung. Rasanya asing, tapi juga familiar. Ada bagian dari diri saya yang tetap ingat bagaimana rasanya berdiri di jalur yang sepi dan dingin.
Dari semua perjalanan naik gunung setelahnya, Kerincitetap yang paling lekat. Bukan karena paling tinggi, tapi karena pertama. Dan mungkin karena di sanalah, saya mulai pelan-pelan belajar berjalan dengan tenang. Belajar diam. Belajar merasa cukup.
Saat ini, ketika saya melihat kembali ke belakang, rasanya pendakian itu bukan sekadar naik gunung. Tapi cara diam-diam untuk mengenal diri sendiri, dalam versi yang belum banyak tahu apa-apa.
Perjalanan itu mungkin tidak sempurna. Tapi justru karena itu, ia terasa nyata.
Saya ingin kembali ke Kerinci. Setidaknya sekali lagi. Melihat dari foto-foto di media sosial, banyak yang berubah. Jalurnya tampak lebih terbuka dan tertata. Tanah vulkanik yang dulu saya injak berwarna hitam, sekarang terlihat lebih kemerahan. Wajar kalau jalur berubah, seiring waktu dan banyaknya pendaki. Tapi ada bagian dari diri saya yang penasaran, bagaimana rasanya berjalan lagi di tempat yang dulu begitu asing, tapi sekarang terasa akrab. Mungkin saya hanya ingin memastikan, bahwa hal-hal yang pernah penting dulu, masih bisa saya temui hari ini.
"Sepuluh tahun berlalu, tapi satu perjalanan tetap tinggal. Yang pertama, tidak pernah benar-benar pergi"
Puncak Indrapura Gunung Kerinci - Agustus 2015
Payung Teduh - Angin Pujaan Hujan
Jakarta, 14 Juli 2025
Aspi Yuwanda
Setelah hampir dua tahun berlalu sejak terakhir kali menapaki jalur klasik Gunung Gede, akhirnya lembar berikutnya dari perjalanan ini terbuka juga: Pangrango, sang kembaran yang selama ini seolah berada di balik bayang. Bukan tanpa alasan saya menundanya begitu lama. Mungkin karena saat terakhir ke Gede, meski menyenangkan saya belum merasa “selesai” dengan rimbanya. Atau mungkin karena Pangrango memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk disinggahi.
Dan kali ini, waktu itu datang dalam bentuk yang berbeda: tektok, pulang-pergi tanpa bermalam. Pendakian ini saya lakukan pada hari Sabtu, 28 Juni 2025 lalu,
Oh ya, Ini adalah pendakian yang dadakan. Tidak ada rencana matang sebelumnya, tidak juga persiapan khusus. Tiba-tiba dalam pikiran saya bergumam, kayanya enak nih ke Pangrango weekend ini. Kemudian saya menghubungi beberapa trip operartor, dan ada yang masih open. Langsung saja saya daftar.
Jumat Malam: Menuju Basecamp
Perjalanan dimulai dari Jakarta pada Jumat malam, pukul 11. Rombongan kami terdiri dari sembilan peserta dan dua orang kru. Saya tidak mengenal siapa pun sebelumnya, tapi seperti biasa, langkah-langkah di jalur akan memperkenalkan kami satu per satu lewat napas, jeda, dan diam.
Kami tiba di basecamp Mang Yana Kolot, Cibodas, sekitar pukul 01.30 dini hari. Suasana basecamp cuku ramai, namun hangat. Kami rebahan sebentar untuk beristirahat, lalu bersiap: sepatu, trekking pole, headlamp, logistik ringan, dan tentu saja air. Dalam pendakian tektok, semua harus serba cukup dan efisien.
Perjalanan dari basecamp diawali dengan jalur datar dan teduh, hingga akhirnya sampai di Telaga Biru, danau kecil berwarna kehijauan yang biasanya sunyi. Setelah itu, jalur mulai sedikit berlumpur di area Rawa Gayonggong, sebelum masuk ke Pos Panyancangan Baru dan Lama. Di sini, udara mulai dingin dan kabut pelan-pelan turun.
Tak lama, kami tiba di Air Panas, sebuah jalur berisi aliran geotermal yang mengeluarkan uap dari sela bebatuan. Aroma belerang dan pijakan licin di jembatan besinya jadi tantangan tersendiri. Lanjut ke atas, jalur mulai didominasi akar, batu, dan tanjakan panjang menuju Batu Kukus dan Kandang Batu. Di titik ini, banyak pendaki biasanya mulai menyesuaikan ritme.
Hingga akhirnya kami tiba di Kandang Badak, sebuah persimpangan penting: ke kiri menuju Gunung Gede, ke kanan ke Gunung Pangrango. Jalurnya langsung berubah. Dari lebar menjadi sempit, dari ramai menjadi sunyi. Trek menuju puncak Pangrango sepanjang ±3 km berisi akar pohon, vegetasi lumut, dan kabut yang menggantung.
Di atasnya, ada satu dataran lagi: Lembah Mandalawangi. Letaknya sedikit menurun dari puncak utama, tapi keberadaannya seperti ruang rahasia. Padang rumput edelweiss, udara dingin yang bersih, dan sunyi yang benar-benar sunyi. Tempat itu bukan untuk ramai-ramai. Ia hanya menyambut yang datang dengan tenang.
Lembah ini juga dikenal sebagai tempat peristirahatan simbolik Soe Hok Gie, seorang aktivis dan pecinta alam yang abunya ditaburkan di sana setelah kremasi. Banyak pendaki datang ke Mandalawangi bukan sekadar untuk menikmati pemandangan, tapi juga untuk mengenang semangat dan nilai-nilai hidup yang ditinggalkannya.
Gunung Pangrango via Cibodas adalah salah satu jalur pendakian klasik di Taman Nasional Gede Pangrango. Meski kerap berada di bayang-bayang Gunung Gede yang lebih populer, jalur menuju Pangrango justru menyimpan kesunyian, vegetasi lebat, dan cerita-cerita yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar berjalan sampai ke ujungnya. Tidak hanya menantang secara fisik dengan total jarak puluhan kilometer jika dilakukan secara tektok jalur ini juga menyuguhkan dimensi lain dari pendakian: soal ketahanan, kesabaran, dan pertemuan dengan sisi terdalam dari diri sendiri.
03.45 WIB: Pendakian Dimulai
Langkah pertama saya ayunkan dari basecamp pukul 03.45 pagi. Langit masih gelap, suhu menusuk, namun semangat dari rombongan cukup hangat untuk mengusir kantuk. Tanpa direncanakan, saya berada di barisan depan sejak awal.
Jalur Cibodas, sebagaimana adanya, tetap menjadi rute yang penuh cerita dan penuh variasi. Di awal, jalur masih ramah: datar, lebar, dan dinaungi rimbun pepohonan. Telaga Biru kami lewati dalam senyap, hanya ditemani suara langkah dan gemerisik daun. Setelahnya, tanah mulai sedikit becek saat memasuki Rawa Gayonggong. Jalur di sini kadang licin, tapi masih mudah dilalui.
Selepas Pos Panyancangan Lama dan Baru, medan mulai berubah. Tanahnya makin menanjak, banyak akar dan batu-batu besar yang harus dilompati. Jalan mulai terasa "gunung" dalam arti yang sesungguhnya.
Air Panas adalah titik yang tak mungkin dilupakan. Selain karena uap panasnya yang naik dari sela-sela batu dan aroma belerang yang khas, tempat ini juga punya warung kecil. Di sisi kanan jalur, ada sebuah shelter yang sudah rubuh, tapi masih ada bekas bangunannya. Warung ini menjual gorengan, buah-buahan, teh manis, kopi, dan mi rebus. Di belakangnya ada toilet darurat yang bisa digunakan pendaki. Saya tidak berhenti lama, tapi sekilas melihat pendaki lain yang duduk menyeduh kopi, dengan jaket yang mulai basah oleh embun pagi dan juga ada beberapa tenda di sana saat itu. Suasana di situ seperti jeda dalam perjalanan yang panjang.
Setelah Air Panas, jalur berubah drastis. Tanjakan-tanjakan makin panjang, dan di beberapa titik, hampir tidak ada jalur datar sama sekali. Di Batu Kukus dan Kandang Batu, saya mulai melambat. Trek di sini penuh batu, akar, dan ranting patah. Kadang harus berpegangan pada batang pohon untuk tetap stabil. Nafas harus dijaga, langkah mesti dipastikan mantap.
Sekitar pukul 09.00 pagi, saya sampai di Kandang Badak. Dua warung sederhana menyambut kami. Tak lama, saya juga tahu bahwa di sebelah kanan ada shelter yang hampir rubuh dan ada toilet yang cukup bersih untuk ukuran gunung, serta kran air yang tanpa henti mengalir. Beberapa pendaki memanfaatkannya untuk cuci muka atau sekadar menenangkan perut.
Di titik ini, suasana berubah jadi lebih tenang. Tak ada hiruk pikuk seperti di jalur Gede. Hanya kabut, suara daun, dan orang-orang yang sejenak melupakan dunia luar. Rombongan saya masih menyusul di belakang, jadi saya duduk diam agak lama, memandang ke belalang yang mana adalah jalur yang menanjak menuju Pangrango. Jalur itu tampak sunyi. Tapi entah kenapa, justru itu yang menarik.
Shelter Kandang Badak
Shelter Kandang Badak
Menuju Puncak: Bergeser ke Belakang
Sekitar pukul 10.00, kami mulai bergerak dari Kandang Badak menuju Puncak Pangrango. Jalur ini sepanjang ±3 km, dan dari sinilah pendakian terasa benar-benar berbeda. Kali ini saya memilih berjalan di barisan paling belakang, menjadi semacam sweeper tak resmi. Kami berempat: saya, seorang kru, dan dua peserta lain yang ritmenya melambat. Salah satunya tampak mulai kelelahan. Tapi ia tetap ingin lanjut, dan itu sudah cukup alasan bagi saya untuk tetap di sini.
Berbeda dari jalur sebelumnya yang ramai dan terbuka, trek ke Pangrango mulai menyempit. Tanah merahnya lembap, licin, dan beberapa bagian dipenuhi akar yang menjalar seperti simpul rumit di tengah rimba. Beberapa tikungan menanjak hanya bisa dilalui satu orang, membuat kami harus menunggu satu sama lain. Di kiri-kanan, batang pohon tumbang bersandar begitu saja, menciptakan lorong sempit yang harus dilewati dengan cara menunduk atau melangkah hati-hati.
Langkah kami lambat, tapi stabil. Tidak tergesa. Mungkin karena kelelahan, mungkin juga karena tidak ada yang ingin terlalu cepat sampai. Di jalur ini, ritme bukan soal siapa yang kuat, tapi siapa yang bisa bertahan.
Hingga akhirnya kami sampai di satu zona yang berbeda: hutan lumut. Suasananya langsung berubah. Seolah-olah baru saja melangkah masuk ke dunia yang lain. Semua batang pohon tertutup lumut tebal, sebagian menjuntai dari cabang-cabang, menciptakan kesan liar tapi magis. Vegetasi di sini lebih rapat, tanahnya basah dan dingin. Cahaya matahari nyaris tak tembus, hanya bias samar yang membuat hijau lumut tampak berpendar halus.
Cuplikan Foto di Hutan Lumut
Kami berhenti cukup lama di titik ini. Bukan karena tak sanggup lanjut, tapi karena ingin memberi jeda. Tak ada yang bicara banyak. Kami hanya saling pandang, saling lempar senyum, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saya berdiri agak ke pinggir, bersandar di batang pohon yang terasa basah di punggung. Saya menyalakan kamera sebentar, mengambil satu-dua gambar. Tapi kemudian saya masukkan lagi. Tak ada foto yang bisa benar-benar menangkap atmosfer tempat seperti ini.
Di hutan lumut Pangrango ini, waktu seperti berjalan lebih lambat. Bahkan suara pun berubah lebih pelan, lebih dalam. Seolah-olah kita dipersilakan lewat, tapi diminta untuk tidak mengganggu. Ini bukan tempat untuk berisik atau terburu-buru. Ini tempat untuk mendengar napas sendiri, dan mungkin juga mendengar hal-hal yang tak terlihat.
Dan di titik inilah saya menyadari satu hal: jalur ke puncak Pangrango bukan hanya soal fisik. Bukan hanya tentang tanjakan yang tak habis-habis atau kaki yang mulai berat. Tapi juga tentang bagaimana kita diajak berjalan ke dalam menyusuri sisi-sisi diri yang biasanya tertutup oleh kesibukan.
Di Gunung Pangrango ini memang berbeda dengan gunung-gunung lain yang kadang memberi kita "bonus" sinyal telepon di beberapa titik. Sepanjang perjalanan, hampir tak ada koneksi sama sekali. Namun di satu titik, di tengah perjalanan menuju puncak, ponsel saya tiba-tiba menangkap sinyal. Tidak kuat, tapi cukup untuk satu atau dua bar. Saya berhenti sebentar, menarik napas, lalu membuka pesan. Saat itu juga saya kirim SMS ke istri: memberi tahu bahwa saya sedang dalam perjalanan ke puncak, dan kemungkinan besar akan sampai kembali ke basecamp malam hari. Bukan untuk drama, bukan pula agar khawatir saya hanya ingin rumah tahu bahwa saya baik-baik saja.
Setelah melewati hutan lumut, kami lanjut berjalan. Trek makin menanjak, makin sempit, dan beberapa bagian benar-benar menguras tenaga. Tapi kami tetap melangkah. Perlahan tapi pasti. Dan sekitar pukul 14.00, akhirnya kami sampai di Puncak Pangrango, 3.019 mdpl.
Tidak ada pemandangan spektakuler, tidak ada langit biru atau hamparan awan seperti di foto-foto. Tapi justru di situlah letak kepuasannya. Di balik kelelahan, ada rasa lega. Di balik peluh, ada kemenangan yang tidak bisa diukur dengan ketinggian. Karena dalam pendakian ini, bukan hanya tubuh yang naik, tapi juga pemahaman tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang gunung yang tak pernah sama bagi setiap orang yang mendakinya.
Puncak Pangrango
Total waktu :
Basecamp - Rawa Panyangcangan : : 2 Jam
Rawa Panyangcangan - Air Panas : 2 Jam
Air Panas - Kandang Badak : 1 Jam 15 Menit
Kandang Badak - Puncak Pangarango : 4 Jam
Puncak Pangrango - Lembah Mandalawangi : 10 Menit
Total : 9 Jam 25 Menit (Estimasi)
Estimasi tersebut dengan kondisi tidak bawa banyak logistik dan juga tidak membawa perlengkapan camp, seperti halnya pendakian saya sebelumnya.
Saya ikut rombongan pertama untuk turun, waktu saya di puncak sangat singkat. Meski demikian, saya masih sempat berjalan sebentar ke arah Lembah Mandalawangi, menikmati sisa kabut yang menari di antara padang rumput, dan mengambil beberapa dokumentasi seperlunya.
Lembah Mandalawangi
Lembah Mandalawangi
Turun: Langkah Singkat di Puncak dan Hujan di Tengah Rimba
Pukul 14.45, kami mulai bergerak turun dari puncak menuju Kandang Badak. Jalur yang sama terasa berbeda saat dilalui dari sisi sebaliknya. Kaki mulai merasakan letih, tapi ritme berjalan tetap stabil. Sekitar 2,5 jam kemudian, kami tiba kembali di Kandang Badak.
Di sana, kami duduk santai, membuka logistik yang tersisa. Menyeduh kopi yang terasa jauh lebih mewah di ketinggian, sambil menunggu rombongan belakang. Sejatinya, kami ingin turun bersama-sama. Menunggu adalah bentuk kecil dari kebersamaan, namun waktu punya jalannya sendiri.
Menjelang pukul 18.00, kabar dari kru lewat HT mengatakan bahwa rombongan belakang sudah dekat. Kami percaya. Tapi lima belas menit kemudian, belum juga ada tanda-tanda mereka tiba. Langit mulai gelap, angin turun pelan, pertanda bahwa hujan akan segera datang. Benar saja, hujan langsung turun dengan derasnya. Akhirnya, setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu meskipun hujan dengan derasnya sedang mengguyur.
Pukul 18.15, kami kembali melangkah menembus hutan Cibodas. Tak lama setelahnya, hujan turun deras. Jalur tanah menjadi licin, akar menjadi jebakan. Tapi kami tetap berjalan, satu demi satu, dengan kepala tertunduk menahan air yang membasahi jaket dan sepatu.
Hingga akhirnya, kami sampai di Rawa Panyangcangan sekitar 3 jam kemudian. Tanpa banyak pikir, saya langsung memesan bakso dan telur gulung,dua hal sederhana yang rasanya luar biasa setelah belasan jam berjalan. Uap makanan seperti hadiah yang jatuh dari langit.
Setelah makan dan beristirahat selama sekitar tiga puluh menit, kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Langkah-langkah kembali menyusuri jalur yang basah dan gelap. Namun, di sinilah cerita menjadi berbeda. Tepat setelah melewati jembatan panjang di Rawa Gayonggong, saya merasa seperti diikuti oleh "seseorang". Jejak langkahnya jelas terdengar, tepat di belakang saya.
Team leader kami, yang berada di paling depan, seolah merasakan hal yang sama. Tiba-tiba ia berseru, “Rapat guys. Kita rapat!” Beberapa kali setelahnya dia juga berseru dan bertanya kepada saya, "Bang, aman kan" ? Suaranya sedikit tegang. Seketika, pikiran saya melayang ke mana-mana. Saya mencoba tetap tenang, menyorotkan lampu headlamp hanya ke jalur di depan. Namun, rasa was-was tak bisa dibohongi.
Sesekali saya menoleh ke kanan dan kiri. Di antara kabut dan cahaya temaram, saya seperti melihat bentuk-bentuk aneh. Padahal, saya tahu itu hanya pepohonan dan rumput liar. Tapi di titik tertentu, di area sekitar Telaga Biru, saya melihat sesuatu yang membuat langkah saya nyaris terhenti. Saat lampu headlamp saya menyapu ke arah telaga, saya seperti melihat sosok perempuan duduk bersila, bertapa di tengah air. Diam. Tenang. Seperti bayangan seorang dewi.
Di tengah perasaan saya yang was-was, dan langkah kaki kami yang tetap melaju perlahan di jalur basah, samar-samar saya mencium bau melati. Lembut, tidak menyengat, tapi cukup jelas untuk membuat napas saya sedikit tertahan. Salah satu peserta di depan saya tiba-tiba berujar pelan, “Ada yang nyium bau melati nggak?” Kami saling pandang sejenak. Tidak ada yang menjawab, tidak juga mencoba menebak.
Bau itu hanya sebentar. Beberapa detik saja, lalu hilang begitu saja, seolah larut bersama kabut. Di sekitar kami tak ada bunga, tak ada dupa, dan kami pun tahu tidak membawa apa-apa yang bisa mengeluarkan wangi seperti itu. Hanya ada malam yang sunyi, tanah licin di bawah sepatu, dan kepala yang sedang sibuk menenangkan diri.
Saya tidak tahu pasti apa yang di alami. Bisa jadi hanya efek lelah, bisa juga memang ada sesuatu yang melintas. Tapi saat bau itu muncul, suasana seketika terasa lain. Lebih hening, lebih dalam, seperti ada yang menyapa, tapi tanpa suara. Saya mencoba tetap tenang dan menghormati, karena di gunung, kadang kita bukan satu-satunya yang berjalan.
"Terkadang, gunung tidak menunjukkan dirinya lewat wujud, tapi lewat bau. Karena bau lebih susah dibantah. Dia tidak bisa difoto, tapi bisa dirasakan."
Saya mencoba tetap berpikir positif. Barangkali itu hanya halusinasi karena lelah. Namun, bayangan-bayangan lain terus berdatangan. Ada yang menyerupai anjing. Ada pula yang tampak seperti truk, padahal hanya bayangan batang pohon dan kerimbunan semak. Aneh kan ?
Ketika menceritakan part diatas ini, bulu roma saya berdiri. Ini adalah pengalaman yang akan saya kenang lama. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk diingat sebagai bagian dari perjalanan yang tidak biasa.
"Yang membuat bulu roma berdiri bukan karena sosok yang terlihat, tapi karena ingatan tentang rasa sunyi yang terlalu nyata untuk dilupakan. Bisa jadi bukan mereka yang hadir tapi bagian dari diri kita sendiri yang sedang membuka mata. "
Begitu sampai di Pos Simaksi, team leader kami bercerita. Dengan suara tenang namun pasti, ia bilang, "Tadi saya lihat, ada yang mengikuti abang di belakang."
Ini adalah pengalaman pertama saya mengalami hal di luar nalar selama mendaki gunung. Saya tetap berusaha untuk berpikir positif, karena saya percaya itulah kunci agar "mereka" tidak benar-benar mampir ke kita. Perjalanan dari Rawa Panyangcangan menuju Pos Simaksi, kemudian dilanjutkan ke Basecamp, nyaris tanpa henti. Kami hanya fokus untuk segera sampai, berdoa dalam hati sambil menjaga langkah tetap mantap.
“Bukan untuk ditakuti, tapi untuk diingat sebagai bagian dari perjalanan yang tidak biasa.”
Akhirnya, setelah total lebih dari 20 jam perjalanan, kami tiba kembali di Basecamp tepat pukul 23.45. Tubuh mungkin lelah, tapi hati terasa penuh. Penuh karena selamat. Penuh karena belajar. Dan penuh karena telah menyentuh batas yang belum pernah disentuh sebelumnya.
Lucunya, meskipun saya tak kenal siapa pun sebelumnya, dalam pendakian sepanjang ini rasanya sulit untuk tetap jadi orang asing. Di awal mungkin hanya anggukan atau senyum singkat. Tapi seiring waktu di tanjakan yang sama, di jeda yang sama, dan dalam lelah yang sama perlahan semuanya mulai cair. Obrolan ringan di pos istirahat, berbagi logistik kecil, saling bantu pasang jas hujan, atau sekadar tanya, “Masih kuat, Bang?” Itu semua jadi semacam jembatan.
Tidak ada yang memaksakan diri untuk akrab, tapi karena kita berjalan bersama dalam lebih dari 20 jam perjalanan yang penuh naik-turun, hujan, gelap, dan rasa was-was, akhirnya keterhubungan itu tumbuh sendiri. Kita jadi saling tahu ritme masing-masing. Siapa yang biasanya paling depan, siapa yang pelan tapi konsisten, siapa yang diam tapi selalu ada saat dibutuhkan.
Dan dari situ, saya belajar lagi satu hal sederhana: bahwa kebersamaan kadang tidak perlu dibangun dari hal besar. Cukup dari pengalaman yang dijalani bersama, tanpa dibuat-buat. Karena saat kita sama-sama melewati banyak hal, keakraban akan muncul dengan sendirinya dan itu lebih tulus daripada seribu perkenalan.
"Kami mungkin tak saling kenal, tapi gunung memperkenalkan kami satu per satu; lewat tanjakan, istirahat, dan rasa lelah yang sama."
Tiba di basecamp, saya langsung mengabari istri di rumah. Kemudian duduk beristirahat di kursi depan sambil merokok. Kejadian tadi masih saja masih terngiang di kepala saya. Rasanya ingin langsung pulang ke Jakarta saat itu juga, tapi rombongan satu lagi belum tiba. Kami harus menunggu mereka terlebih dahulu.
Saya tidak tahu pasti pukul berapa mereka sampai, karena setelah duduk cukup lama di depan basecamp, saya akhirnya tertidur. Sekitar pukul 02.30 dini hari, saya dibangunkan oleh kru dan diberi tahu bahwa kami akan segera kembali ke Jakarta. Pukul 03.00, mobil berangkat meninggalkan basecamp. Perjalanan kami berakhir di titik awal sebelum keberangkatan, di daerah Tebet, sekitar pukul 04.30 pagi.
Perjalanan ini, meskipun hanya sehari, terasa seperti rangkuman banyak pendakian sekaligus. Ada rasa lelah fisik yang luar biasa, ada situasi tak terduga di jalur, dan ada pula pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, pengalaman di luar logika yang sulit dicerna tapi terlalu nyata untuk diabaikan.
Di Pangrango, saya tidak hanya menempuh jarak, tapi juga melintasi batas-batas dalam diri sendiri. Ketika tubuh sudah lelah dan langkah mulai tak stabil, yang berbicara bukan lagi otot atau napas, tapi kemauan. Kemauan untuk terus jalan, walau pelan. Kemauan untuk tetap tenang, bahkan saat situasi mulai terasa aneh.
Saat mobil meninggalkan basecamp dan masuk ke jalanan Cibodas yang sepi menjelang subuh, saya duduk di baris belakang, menatap keluar jendela. Lampu jalan menyapu pepohonan yang tadi malam begitu gelap dan diam. Saya tidak sedang memikirkan capaian “tektok 20 jam”, tidak juga sedang membanggakan diri karena berhasil sampai puncak. Yang muncul justru hal-hal kecil: langkah pelan di antara kabut, suara air hujan yang menetes di jaket, dan momen saat saya merasa benar-benar sendiri meski di tengah rombongan.
Gunung, buat saya, memang bukan soal pencapaian. Ia bukan daftar yang harus dicentang satu per satu. Setiap gunung punya cara sendiri untuk menguji dan mengajarkan. Dan Pangrango mengajarkan saya tentang kontrol-kontrol terhadap ritme, terhadap emosi, dan terhadap pikiran yang mulai liar di tengah lelah.
Saya mungkin tidak akan segera kembali ke Pangrango. Tapi cerita tentangnya akan tinggal lebih lama di kepala saya. Bukan karena ketinggiannya, bukan karena pemandangannya, tapi karena pengalaman yang saya bawa pulang, yang tidak semua bisa dijelaskan, tapi cukup untuk dipahami pelan-pelan.
Tektok Pangrango ini, buat saya, bukan cuma soal menempuh jarak puluhan kilometer dalam sehari. Ini tentang bagaimana gunung memperlihatkan sisi lain dari diri saya sendiri yang mungkin tidak akan saya temui di tempat lain. Bukan soal mengejar sunrise atau dokumentasi puncak, tapi tentang bertemu dengan versi diri saya yang lebih sabar, lebih tahan, dan lebih peka terhadap sekitar.
Dan dengan ini, akhirnya perjalanan Gede–Pangrango saya genapi juga.
“Di Pangrango, saya tidak hanya menempuh jarak, tapi juga melintasi batas-batas dalam diri sendiri.”
Where to go, next?
Pertanyaan itu biasanya muncul di akhir setiap pendakian. Bahkan kadang langsung terpikir saat baru turun dari gunung: “Setelah ini ke mana lagi?” Tapi untuk kali ini, saya tidak buru-buru mencari jawabannya. Rasanya belum perlu. Beberapa pendakian yang saya jalani tahun ini, termasuk Pangrango yang baru saja selesai, sudah cukup untuk memberi ruang bergerak bagi tubuh dan pikiran saya yang sempat terlalu lama diam.
Pendakian ke Pangrango ini sendiri bisa dibilang cukup dadakan. Tidak ada rencana jauh-jauh hari, tidak ada persiapan yang terlalu matang. Tapi justru di situ letak menariknya. Kadang perjalanan yang tidak direncanakan dengan detail justru membawa pengalaman yang lebih jujur, lebih lepas. Saya tidak membawa ekspektasi macam-macam, tidak pula ingin mengejar foto atau capaian tertentu. Hanya ingin berjalan. Hanya ingin tahu rasanya naik Pangrango secara tektok.
Dan ternyata, perasaan itu cukup untuk membuat saya pulang dengan kepala yang lebih ringan. Bukan karena pendakian ini tanpa tantangan justru sebaliknya. Tapi karena saya bisa melalui semuanya dengan utuh. Tidak ada yang ditinggalkan. Tidak ada bagian yang terasa sia-sia.
Itu juga yang membuat saya belum ingin langsung memikirkan pendakian berikutnya. Saya ingin menyimpan dulu semua rasa yang ada. Menulisnya pelan-pelan, membacanya ulang, dan mungkin baru beberapa minggu atau bulan ke depan saya merasa siap untuk berjalan lagi. Saya tidak ingin perjalanan gunung berubah jadi semacam daftar target yang harus segera dicapai. Biar tetap menyenangkan, tetap punya ruang untuk dinikmati.
Kalau ada yang saya pelajari dari perjalanan ini, mungkin itu: bahwa mendaki bukan soal cepat-cepat naik, atau buru-buru pindah ke puncak berikutnya. Tapi soal memberi waktu pada diri sendiri untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, dan merasa cukup. Tidak selalu harus ke mana-mana. Kadang yang kita butuhkan cuma duduk diam, dan tahu bahwa semua langkah yang sudah ditempuh... ada artinya.
"Pendakian ini bukan tentang mencapai puncak dalam waktu singkat, tapi tentang bagaimana saya bertahan, belajar sabar, dan menghadapi hal-hal yang tak terduga di jalur."
Berselang satu bulan sejak pendakian ke Gunung Slamet bulan Mei lalu, saya kembali melangkahkan kaki ke jalur pegunungan, kali ini saya mendaki Gunung Merbabu pada 7 - 8 Juni 2025 lalu. Yap, saya ke Merbabu juga akhirnya.
Sudah lama sebenarnya gunung ini masuk wishlist, tapi belum sempat kesampaian. Tapi, Juni ini kebetulan ada long weekend, bersamaan dengan hari Raya Idul Adha, saya melanjutkan series pendakian selanjutnya. Kali ini saya ikut Open Trip, datang sendiri, tanpa teman. Tapi seperti yang sering terjadi dalam dunia pendakian, sendirian bukan berarti kesepian. Diperjalanan kenal beberapa orang, kemudian menjadi teman selama pendakaian dan setelahnya.
Open Trip kali ini terdiri dari 17 orang dari berbagai daerah di sekitar Jakarta. Saya mendaki melalui Jalur Thekelan. Jalur ini katanya lebih sepi daripada Selo maupun Suwanting, dan banyak yang bilang view-nya tidak kalah indah. Satu hal yang langsung membuat saya memilih jalur ini karena baru memutuskan untuk ikut pada siang hari nya, yang mana dua jalur populer lainnya seperti jalur Selo dan dan jalur Suwanting kuotanya sudah habis, jadi nya yasudah, jalur Thekelan jadi pilihan.
Sekilas Tentang Gunung Merbabu. Gunung Merbabu adalah Gunung Stratovulcano
yang secara administratif gunung ini berada di
wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di
lereng sebelah timur dan selatan, Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara,
Provinsi Jawa Tengah. Ada beberapa jalur pendakian Gunung Merbabu yang populer, yaiut Jalur Suwanting yang berada di kabupaten Magelang. Jalur Selo yang berada di Kabupaten Boyolali dan Jalur Thekelan yang berada di Kabupaten Semarang.
Mengapa Jalur Thekelan disebut Jalur Perintis ? Baiknya, berikut ceritanya. Tak banyak yang tahu, di balik sunyinya jalur Thekelan, tersimpan jejak awal mula pendakian Gunung Merbabu yang sesungguhnya. Jalur ini bukan sekadar alternatif dari jalur-jalur populer seperti Selo atau Suwanting ia adalah jalur perintis, jalur resmi pertama yang dibuka untuk umum dan dikelola langsung oleh Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb). Dari sini, pendakian Merbabu mulai dikenalkan secara terstruktur, sebelum geliat pariwisata dan media sosial meramaikan jalur-jalur lainnya.
Thekelan adalah tempat di mana cerita pendakian Merbabu dimulai secara resmi, jauh sebelum Selo dipadati rombongan atau Suwanting dikenal dengan tanjakannya yang menggoda. Di jalur ini pula, para peneliti, pecinta alam, dan komunitas lingkungan sejak lama naik dan turun gunung melakukan observasi flora, fauna, hingga geologi Merbabu.
Yang membuat Thekelan istimewa bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena ia mempertahankan kesunyian, vegetasi yang lebih utuh, dan atmosfer pendakian yang natural. Di sepanjang jalurnya, kita tidak hanya diajak berjalan, tapi juga diajak kembali menghayati: bahwa gunung bukan sekadar tempat untuk ditaklukkan, tapi tempat untuk didengar dalam diamnya.
Baiklah, saya akan mulai menceritakan pengalaman saya mendaki Gunung Merbabu via Thekelan.
Perjalanan di mulai pada pukul 9 Malam, di titik kumpul Cawang Uki. Suasana saat itu luar biasa ramai. Dua tahun lalu ketika mendaki Gunung Sumbing, saya juga ikut Open Trip. Tapi saat itu, suasanya berbeda, Ramai sekali orang-orang berkumpul di titik kumpul tersebut untuk mengikuti berbagai Open Trip. Sudah seperti Terminal Bayangan yang ada di daerah-daerah. Saya melihat wajah-wajah asing yang membawa ransel besar, berbicara pelan atau tertawa kecil, menunggu giliran untuk naik kendaraan yang akan membawa mereka ke kaki gunung. Bus Elf bahkan Bus 3/4 silih berganti tiba, memarkikan dirinya di pinggir jalanan, sembari menunggu naiknya para pendaki untuk memulai perjalanannya. Luar biasa ya antusias orang-orang saat ini untuk mendaki Gunung.
Sekitar pukul delapan pagi, kami akhirnya tiba di Basecamp Thekelan. Perjalanan dari Jakarta cukup lancar. Jalanan mulai terasa sempit dan meliuk saat kendaraan masuk ke kawasan desa Thekelan naik turun dengan tikungan tajam khas daerah pegunungan. Untung sopir kami sudah lihai mengendalikan bus mini di jalur seperti ini.
Begitu turun dari kendaraan, udara sejuk langsung menyambut. Matahari sudah naik, tapi hangatnya masih tertahan oleh hawa pegunungan yang segar. Basecamp Thekelan cukup ramai pagi itu. Beberapa rombongan lain juga tampak bersiap, beberapa bahkan sudah menyelesaikan registrasi dan mulai menyusun ransel mereka.
Kami pun langsung melakukan persiapan: sarapan cepat dengan makanan hangat dari warung sekitar, repacking perlengkapan, memastikan logistik tidak ada yang tertinggal. Suasana pagi yang cerah membuat mood kami cukup semangat, meskipun sebagian masih terlihat kurang tidur akibat perjalanan malam. Oh ya, Trip Operator kali ini adalah Falisha Journey.
Depan Basecamp Merbabu via Thekelan
Basecamp Thekelan - Pos 1 (Pending)
Sekitar pukul 10 pagi, kami semua dikumpulkan untuk briefing. Waktu itu, salah satu crew dari trip organizer, memimpin pengarahan. Beberapa hal ditekankan: pentingnya menjaga kebersihan jalur dan menjaga diri serta satu sama lain. Di perjalanan, saya berada di rombongan paling belakang, bersama dengan dua orang lainnya yang baru saya kenal di Trip kali ini.
Perjalanan dimulai dengan Ojek Gunung, dari basecamp sampai ke Pos 1 dengan tarif Rp 40.000. Worth sih, karena kalau berjalan bisa menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Jalur awal masih berupa hutan yang cukup rapat, tanah padat dan ada bagian jalan yang sudah di semen. 20 Menit saja, saya sampai di Pos 1. Di Pos 1 ini ada warung, sebuah Mushallah juga. Namanya Pending. Sempat terbersit, dinamkan Pending mungkin saja dari Bahasa Inggris, yang artinya Menunda. Mungkin dinamakan seperti itu biar para pendaki tunda dulu perjalanannya sebentar untuk beristirahat di Pos 1 .
Sign Pos 1 Pending
Pos 1 – Pos 2 (Pereng Putih)
Tepat Pukul 11.15 wib, kami mulai trekking. Dari Pos 1 ke Pos 2 mulai terasa nanjak. Jalurnya masuk ke hutan, agak licin karena sisa kabut yang turun. Tapi suasananya menyenangkan, tenang, tidak bising, udara hutan itu bener-bener bikin santai dan segar. Sempet beberapa kali ketemu akar pohon besar yang melintang di jalur, jadi harus berhati-hati agar tidak tersandung.
Dari titik ini, aroma sabana seolah sudah mengintip dari balik pohon-pohon yang mulai jarang. Kabut kadang turun tiba-tiba, menambahkan aura mistis sekaligus magis.
Sampai Pos 2 sekitar pukul 12.45 wib. Di sini saya tidak istirahat lama. Menghisap sebatang rokok dan mengobrol dengan seorang pendaki yang katanya berasal dari Kaki Gunung Kerinci, Desa Kersik Tuo. Kami mengobrol seputaran Gunung Kerinci, membuat saya mengingat momen-momen ketika mendaki Gunung Kerinci 10 tahun yang lalu. Selang 15 Menit kemudian, saya melanjutkna perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3
Suasana Pos 2 - Ramai
Pos 2 – Pos 3 (Gumuk Menthul)
Setelah Pos 2, trek mulai terbuka. Kiri kanan hijau, rumput panjang bergoyang kena angin, dan dari kejauhan Gunung Sindoro, Sumbing dan Andong juga Telomoyo mulai kelihatan dengan jelas. Rasanya kayak jalan di negeri dongeng. Trek ini adalah trek yang panjang. Dominasi jalan tanah, zig - zag dan menanjak. Tidak banyak bonus. Saat itu, kabut menemani perjalanan. Syahdu dan Teduh. Perjalalan juga melalui beberapa landmark yaitu; Akasia Tunggal, Akasia Kembar, Sabaranak 1 dan sabaranak 2. Dua jam kemudian, barulah sampai di Pos 3. Cukup banyak waktu yang dihabiskan, sebab disetiap landmark yang saya sebutkan tadi, kami berhenti untuk mengambil dokumentasi.
Pose ditengah Kabut yang Turun
Jika Pereng Putih masih terasa santai, maka trek menuju Gumuk Mentul ini adalah seleksi alam. Vegetasi mulai menipis, semak-semak makin jarang. Di sisi kiri dan kanan, kadang muncul semacam lereng terbuka, memperlihatkan bentangan lembah dan pucuk-pucuk pohon di bawah sana. Kabut pun kadang datang tanpa aba-aba, turun dari lembah lalu naik pelan, memberikan suasanya yang syahdu dan teduh.
Pos 3 tidak begitu luas, mengingatkan saya kepada Pos 3 Gunung Sindoro, terletak di tanah datar di antara lembah. Vegetasi terbuka, memberikan visual kepada city view Kota Salatiga. Beberapa pendaki juga mendirikan tenda di Pos 3 Ini. Salah satunya, pendaki yang saya temui di Pos 2 sebelumnya.
Pendaki Nandur - (Pendaki Mundur ?)
Sedikit cerita mengenai kata "Pendaki Nandur". Ketika tulisan ini dibuat, saya sempat mencari tau makna dari kata tersebut. Salah satu makna yang menarik adalah; "Pendaki Nandur" pendaki yang tidak hanya berjalan ke puncak, tapi juga menanam kenangan, pelajaran, dan harapan di sepanjang jalur yang ia lalui.
Sign Pos 3 - Gumuk Menthul
D Pos 3, kami memakan perbekalan dan istirahat cukup lama, sekitar 30 menit. Sembari juga menikmati suasana dan udara yang teduh. Kami beruntung, saat itu cuaca sangat bersahabat.
Pos 3 - Pos 4 (Lempong Sampan)
Kami kembali melanjutkan pendakian ketika waktu menunjukkan sekitar pukul Tiga Sore. Masih diiringi kabut tipis yang turun dari atas membuat suasana tetap terasa teduh. Trek dari sini cukup menguji, bukan hanya karena tanjakan yang semakin curam, tapi juga karena medan yang mulai terbuka, membuat tenaga cepat terkuras.
Beberapa bagian jalur masih dilindungi rimbunnya vegetasi hutan pegunungan, namun seiring naiknya ketinggian, pohon-pohon mulai jarang dan berganti dengan ilalang serta semak-semak kecil. Tanah cenderung kering, kadang berbatu, dan di beberapa titik licin karena debu yang mengendap di atas akar-akaran.
Yang paling terasa dari jalur Gumuk Menthul ke Lempong Sampan adalah ritme pendakian yang melambat, padahal sejatinya dari Pos 3, warna-warni tenda di Pos 4 sudah kelihatan. Tidak hanya karena beratnya tanjakan, tapi juga karena pandangan mata mulai disuguhi lanskap yang luar biasa. Sesekali kami berhenti, bukan hanya untuk mengatur napas, tapi juga untuk memandangi hamparan alam yang mulai terlihat di belakang kami gunung-gunung tetangga muncul samar di balik kabut, dan lembah-lembah yang tadi kami lewati kini terlihat mungil dari atas.
Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba di sebuah area yang sedikit lebih datar, dikelilingi oleh vegetasi perdu dan kami telah sampai di Pos 4 Lempong Sampan.
Tenda sudah berdiri. Salah satu kenyamanan ikut Open Trip, tentu saja, adalah ini. Saya tinggal masuk ke dalam tenda. Tidak perlu lagi bersusah payah membuka frame, menggelar matras, atau mengikat pasak di tanah keras. Juga tidak perlu sibuk memikirkan masak apa untuk malam ini, semua sudah di handle oleh tim operator. Meski begitu, saya akui, sensasi memasak sendiri di gunung dengan sisa tenaga memang tak tergantikan.
Tempat ini tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menjadi lokasi istirahat strategis sebelum menembus summit attack keesokan harinya. Angin mulai lebih kencang, udara semakin dingin, dan samar-samar, gulungan awan terlihat merambat di atas sabana yang akan kami lewati nanti. Dari Pos 4 ini juga, terlihat puncak-puncak Gunung Merbabu yang besok akan kami datangi. Saya menghabiskan waktu menikmati suasana dan hunting sunset.
Sunset dari Sabana Sekitar Pos 4
Suasana Pos 4
Suasana Pos 4
Matahari perlahan pergi meninggalkan kami dan langit gelap berganti. Kami pun makan malam bersama. Obrolan kecil mengalir di antara kami tentang jalur yang baru dilalui, tentang harapan esok hari, dan tentu saja, tentang puncak yang kini terasa semakin dekat.
Tak lama setelah itu, kami bersiap untuk tidur. Jam menunjukkan pukul delapan malam, dan suara di luar tenda mulai senyap satu per satu. Kami butuh istirahat. Karena tepat pukul tiga dini hari esok, pendakian menuju puncak akan dimulai summit attack yang menjadi klimaks dari perjalanan ini.
Pos 4 - Puncak Pemancar
Jam 02.30 dini hari, alarm mulai berbunyi. Suara-suara dari tenda lain juga mulai terdengar. Udara di luar sangat dingin, bahkan saat sudah pakai jaket tebal dan sarung tangan, rasanya masih tembus ke dalam kulit. Saya pelan-pelan bangun, menyiapkan perlengkapan untuk summit attack.
Saat itu kami sarapan ringan roti sandwich yang sudah disediakan oleh trip organizer. Cukup untuk mengisi tenaga sebelum lanjut jalan. Tidak banyak obrolan. Semua fokus pada persiapan. Jalur ke atas masih cukup jauh dan gelap.
Sekitar pukul 03.00 kami mulai jalan dari Pos 4 Lempong Sampan. Trek langsung menanjak sejak awal. Jalurnya berupa tanah kering bercampur debu dan batu kecil. Beberapa bagian cukup licin. Vegetasi juga mulai berubah. Pohon sudah jarang, lebih banyak ilalang dan semak-semak rendah. Jalur terbuka, jadi angin bisa langsung menghantam tubuh dari sisi kanan bukit. Suhunya makin dingin.
Perjalanan ke Puncak Pemancar memang tidak terlalu panjang, tapi cukup melelahkan karena tanjakannya konstan. Langkah kami juga tidak terlalu cepat. Karena masih gelap, kami hanya mengandalkan headlamp. Lampu-lampu dari rombongan kami terlihat seperti barisan cahaya kecil yang menyusuri lereng. Suasana hening. Kami jalan dalam diam, hanya sesekali berhenti untuk atur napas.
Sekitar setengah perjalanan, langit mulai terang perlahan. Dari arah timur muncul semburat oranye tipis. Waktu itu saya menoleh ke belakang, dan melihat pemandangan yang luar biasa, Gunung Andong dan Gunung Telomoyo terlihat jelas, disertai juga citylight dari Kota Salatiga.
Keindahan Lampu Kota Mengiringi Perjlanan
Kurang lebih satu setengah jam dari Lempong Sampan, kami sampai di Puncak Pemancar. Di sana ada dataran terbuka dan ada bangunan bekas operator pemancar dan tower pemancar yang sudah rubuh berdiri. Udara dingin, saya melihat jam tangan, menunjukkan bahwa saat itu suhu sektitar 4°c. Angin juga mulai sepoi sepoi menghampiri kami. Dari titik ini, pemandangan benar-benar terbuka. Jalur punggungan ke arah Syarif mulai terlihat jelas. Golden hour dari sinar matahari mulai muncul seakan menyapu dengan lembut .
Kami istirihat cukup lama di Puncak Pemancar dan menunggu rombongan dibelakang. Minum air, memakan snack dan mengambil foto. Momen ini jadi titik transisi karena setelah ini, jalurnya mulai rolling, naik turun punggungan. Akan melelahkan, karena meski tanjakannya tidak seterjal sebelumnya, perjalanan ke puncak syarif masih cukup panjang
Sign Puncak Pemancar - Foto diambil ketika Turun
Bekas Bangunan Pemancar - Foto diambil ketika Turun
Puncak Pemancar - Puncak Syarif
Setelah istirahat di Puncak Pemancar, kami lanjut berjalan menuju Puncak Syarif. Yang mana, Puncak Syarif inilah tujuan terkahir. Sejatinya masih ada puncak Triangulasi, Kenteng Songo dan Odo Rante di depan, tapi untuk saat ini, cukup sampai di Puncak Syarif saja. Tidak masalah, karena ini akan menjadi trigger saya kedepan untuk kembali mendaki Gunung Merbabu.
Jalur mulai terbuka sepenuhnya. Di kiri kanan sudah terlihat sabana luas membentang, dengan jalur kecil yang seperti ular meliuk mengikuti punggungan bukit.
Berbeda dengan jalur dari Lempong Sampan yang terus menanjak, trek dari Pemancar ke Puncak Syarif lebih bervariasi. Ada tanjakan, turunan dan beberapa bagian justru datar dan cukup nyaman untuk melangkah. Tapi tetap saja, karena berada di ketinggian, napas masih terasa berat dan tenaga harus diatur.
Pemandangan di sini benar-benar terbuka. Kiri kanan hamparan sabana. Saat itu matahari sudah mulai naik, tapi belum terlalu terik. Langit cerah. Di kejauhan, Gunung Andong, Gunung Teloyomo berdiri dengan jelas di belakang Jalur. Gunung Sindoro dan Sumbing juga menampakkan kegagahannya dari kejauhan.
Waktu tempuh dari Pemancar ke Puncak Syarif sekitar satu setengah jam kemudian, dengan jalan santai. Jalur tanah, sesekali ada batu dan akar, tapi umumnya aman dilalui. Beberapa titik cukup sempit dan agak miring ke samping, jadi tetap harus hati-hati.
Sekitar pukul 06.30 pagi, kami tiba di Puncak Syarif. Tujuan akhir dari pendakian kali ini. Di sini banyak pendaki berhenti untuk istirahat atau foto. Spot-nya cukup luas dan menjadi salah satu titik populer. Dari Puncak Syarif, kita bisa melihat jalur sabana yang sudah dilewati dan sisa punggungan menuju puncak-puncak berikutnya.
Saya mengambil dokumentasi dan menikmati view 360° yang disuguhkan dari Puncak Syarif.
Suasana Puncak Syarif
Total Waktu :
Basecamp - Pos 1 : 20 Menit
Pos 1 - Pos 2 : 1 Jam 30 Menit
Pos 2 - Pos 3 : 2 Jam
Pos 3 - Pos 4 : 45 Menit
Pos 4 - Puncak Pemancar: 1 Jam
Puncak Pemancar - Puncak Syarif : 1 Jam 30 Menit
Total : 7 Jam 5 Menit (Estimasi)
Setelah semua anggota team sampai di puncak syarif,, kami foto bersama dan saya langsung jalan untuk kembali ke camp area. Saya mulai jalan pada pukul 8, dan tiba di Camp Area pukul 11.
Di Camp Area, trip organizer sudah menyediakn Sop Buah. Menyegarkan sekali ya , disaat tubuh sudah lelah dan matahari sedang panas-panasnya, kami menikmati Sop Buah. Sekitar jam 12 siang, makan siang sudah siap, kami makan dan kemudian bersiap untuk turun kembai ke basecamp.
Pukul 13.30 siang, saya mulai perjlanan turun dan tiba di Pos 1 pada pukul 16.00. Kemudian istirahat sejenak, naik Ojek dan tiba di Basecamp pada pukul 16.30. Segera setelahnya, bersih-bersih dan persiapan untuk pulang.
Pukul 18.30, bus Elf yang kami tumpangi mulai melaju untuk kembali ke Jakarta. Sempat istirahat sebentar di rest area, dan kami tiba di Jakarta pada pukul 4 Pagi.
Galeri-galeri selama pendakian :
Jadi, demikianlah cerita pengalaman pendakian saya di Gunung Merbabu via Thekelan. Overall, perjalanan dari Basecamp ke Pos 4 seperti kontur perjalanan di hutan gunung pada umumnya, melewati hutan, akar-akar besar, dan udara sejuk yang menyusup perlahan ke pori-pori. Namun, yang berbeda adalah perjalanan dari Puncak ke Puncak lainnya. Perjalanan di atas punggungan, dari satu puncak ke puncak lainnya, menyuguhkan sensasi yang berbeda. Jalurnya rolling, membawa kami menyusuri jalanan sempit di antara sabana dan langit terbuka. Ini pertama kalinya saya mencapai puncak gunung melalui rute seperti ini, tidak hanya mendaki, tapi juga berjalan dalam bentangan panjang yang seolah tak habis-habis.
Pengalaman ini menghadirkan cara baru dalam menikmati gunung: lebih pelan, lebih terbuka, dan lebih mengagumi. Merbabu tak menawarkan rintangan ekstrem, tapi justru lewat kesederhanaannya, ia memberi kesan yang sulit dilupakan.
Where to go, next ? Gunung Merbabu adalah gunung paling timur yang pernah saya daki sejauh ini. Tapi langkah saya belum berhenti di sini. Masih banyak jalur, masih banyak puncak yang menunggu. Di Pulau Jawa bagian timur, ada Lawu yang sakral, Arjuno-Welirang yang legendaris, Argopuro yang panjang dan sunyi, hingga Raung yang bergemuruh dari kejauhan. Dan bila lebih jauh ke seberang pulau, ada Agung dan Rinjani, dua raksasa yang menjulang di Nusa Tenggara sana.
Namun, di antara semua itu… ada satu keinginan yang belum selesai: kembali ke Merbabu.
Bukan karena belum puas, tapi karena saya belum menginjak semua puncaknya. Mungkin lewat jalur Suwanting, atau Selo agar bisa menyusuri sabana dari sisi lain, melihat Merbabu dari sudut yang berbeda, dan menyempurnakan rasa penasaran yang tertinggal. But, well see..
Gunung Merbabu tidak pernah menawarkan kemewahan, tapi ia punya cara diam-diam menyentuh sisi terdalam dari rasa kagum kita.